Bagaimana Tradisi “Peusijuek” (Tepung Tawar) Aceh Masih Dilestarikan di Kalangan Militer?
Tradisi Peusijuek Aceh tetap hidup dan mengakar kuat sebagai bagian dari kearifan lokal yang dihormati di lingkungan persaudaraan prajurit militer Aceh. Ritual adat tepung tawar ini merupakan peninggalan leluhur masyarakat Serambi Mekkah yang mengandung makna spiritual mendalam, yaitu memohon keselamatan, keberkahan, serta ketenangan jiwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam kultur militer yang bersinggungan langsung dengan tugas penugasan berisiko tinggi, tradisi ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan budaya sekaligus sarana mempererat ikatan emosional antar sesama prajurit serta dengan masyarakat sipil setempat.
Tradisi Peusijuek Aceh biasanya diselenggarakan pada momen-momen krusial, seperti penyambutan komandan baru, pelepasan personel yang akan berangkat ke medan tugas, maupun saat penerimaan prajurit yang baru selesai menjalankan penugasan operasi. Prosesi adat ini dipimpin oleh tokoh agama atau pemangku adat setempat dengan memercikkan air tepung tawar menggunakan dedaunan khusus ke telapak tangan dan bahu prajurit. Penyepuhan beras kuning dan pemberian doa keselamatan menjadi simbol restu dari tanah Aceh agar para prajurit selalu berada dalam lindungan Tuhan.
Integrasi antara nilai-nilai tradisi lokal dengan tata krama militer menciptakan suasana harmonis yang sangat unik di dalam lingkungan korps. Kegiatan ini terbukti efektif membangun moril dan mental bertempur para prajurit, karena mereka merasa didukung penuh secara moral dan spiritual oleh warga masyarakat sekitar. Nilai-nilai kedamaian yang terkandung di dalam ritual mendinginkan suasana serta memperkuat rasa kekeluargaan di dalam markas.
Kelestarian budaya lokal ini juga menjadi sarana diplomasi kebudayaan yang sangat efektif bagi satuan TNI yang bertugas di wilayah paling barat Indonesia tersebut. Para prajurit yang berasal dari luar daerah Aceh dapat belajar memahami, menghargai, serta menjunjung tinggi adat istiadat tempat mereka mengabdi. Rasa saling menghormati antar budaya pun tumbuh dengan sangat subur.
Pelaksanaan ritual spiritual ini menegaskan bahwa modernisasi instansi pertahanan tidak harus mengikis kearifan lokal yang bernilai positif. Pendekatan kultural justru memperkokoh kemanunggalan antara aparat keamanan dan rakyat dalam menjaga kedaulatan negara.
Hingga saat ini, warisan budaya yang adiluhung tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi di lingkungan markas militer. Nilai-nilai kedamaian, rasa syukur, serta kebersamaan selalu menjadi pilar utama dalam mendukung keberhasilan setiap pelaksanaan tugas negara di lapangan.
